Tujuan Wisata Esek Esek Di Shenzen

daftarwisatadichina.web.id Wisata tidak akan pernah luput dari yang namanya dunia malam. Salah satu hiburan di dunia malam adalah wisata esek-esek,dan ada beberapa tujuan dan tempat favorit.Salah satunya adalah wilayah Shenzen. Berikut adalah informasi dan berita mengenai Wisata Ena di Shenzen.

Tanpa terasa kereta yang melaju dengan kecepatan 200 km/jam dari kota Guangzhou-China, telah tiba di stasiun kota tujuan wisata ena Shenzhen. Waktu tempuh tidak lebih dari lima puluh tujuh menit. Saat itu Jam menunjukan sekitar pukul sebelas siang waktu setempat. Perjalan terasa singkat apalagi ditemani seorang anak kecil bersama ibunya. Anak lucu yang terus bernyanyi dengan bahasa yang saya kurang tahu artinya.

Sebelum menuju area pertokoan yang bertebaran di sekitar stasiun untuk sekadar membeli oleh-oleh, dari ketinggian saya menikmati plasanya yang luas dan asri dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit. Yang akan dibeli belum ketemu, selagi masih ada waktu saya melanjutkan pencarian kearah seberang jalan menjauhi stasiun. Berjalan dengan santai menuju bangunan-bangunan tinggi yang tadi terlihat dari plasa stasiun. Sebelum sampai tujuan, mata tertuju pada blok bangunan semacam kompleks ruko di Jakarta.

Baca Juga : Wushan Nightmarketnya China

Walaupun tidak berada di tepi jalan utama tapi mudah ditemui, karena memiliki dinding mozaik warna khas merah muda.Ternyata itu adalah bangunan-bangunan flat yang dibangun khusus untuk kegiatan esek-esek alias seks komersial. Perkiraan tidak kurang dari seratusan blok yang ada di sana serta dikelilingi pagar beton setinggi dua meter. Lantai dasar dipergunakan untuk restoran, salon, toko atau tempat mejeng. Walaupun tidak sempat masuk kedalam bangunan, dari out door ac yang bergantungan tahulah bahwa itu adalah kamar tidur.

Sadar sekarang sudah berada di suatu daerah lokalisasi legal di China. Rasa ingin tahu membuat saya memberanikan diri masuk lebih jauh kedalam komplek. Dalam pikiran walaupun seorang diri, hari masih siang tentu keamanan lebih terjamin. Apalagi tampang memang sudah mirip mereka yang datang berkunjung ke sana. Sewaktu memasuki kawasan merah ini, di salah satu flat saya sudah disambut oleh wanita gemuk usia empat puluhan. Dengan bahasa setempat menawarkan seorang bocah ingusan -semacam abg- yang katanya “main”nya asyik, saya hanya tersenyum sambil terus berjalan.

Berkeliling sepanjang lorong kompleks ada sensasi dan memicu adrenalin. Celotehan dan tawa serta ajakan bermain cinta mengiringi setiap langkah kaki melewati pintu flat mereka, sepertinya mampu menggoyahkan iman. Mungkin usia yang sudah tidak muda lagi inilah yang menghindari saya dari rasa ingin “mencoba” sesuatu di negeri yang pernah dijuluki negeri tirai bambu. Saya hanya berani mengambi satu gambar, itu pun secara sembunyi-sembunyi takut kalau ada yang menegur.