Gelembung Kristal di Guangzhou Merupakan Wahana Permainan Kincir Tertinggi di Dunia

Gelembung Kristal di Guangzhou Merupakan Wahana Permainan Kincir Tertinggi di Dunia

Daftarwisatadichina.web.id – Bagaimana rasanya berada dalam gelembung kristal tembus pandang di ketinggian 455 meter, saat kota dan bumi terasa mengambang di bawah kaki?

Sensasinya bisa Anda buktikan sendiri dengan menjajal bubble tram di Canton Tower, Guangzhou, Guangdong China.

Wahana ini merupakan kincir ria (ferris wheel) horizontal tertinggi di dunia.

Bubble tram ini bergerak di atas jentera yang melingkari pinggiran Canton Tower.

Memiliki tinggi 600 meter, Canton Tower merupakan menara tertinggi di China, dan tertinggi ketiga di dunia.

Canton Tower sebenarnya adalah sebuah menara televisi, yang dengan cerdasnya ‘disulap’ menjadi wahana hiburan yang tak biasa.

Bubble tram hanya satu dari beragam wahana yang ada di tempat ini.

Tapi sebelum menjajalnya, mari kita kenali dulu bangunan unik yang mengantongi beragam rekor dunia ini.

Canton Tower yang mulai beroperasi bersamaan dengan pembukaan Asian Games XVI di Guangzhou 2010, didesain oleh arsitek asal Belanda, Mark Hemel.

Berbeda dari kebanyakan menara televisi yang berbentuk lebar di bagian bawah dan menyempit di bagian atas, Canton Tower justru meramping di bagian tengah, seolah memiliki pinggang.

Ya, Hemel memang terinspirasi dari lekuk tubuh seorang perempuan ramping dengan gaya elegan.

Maka jadilah potongan Canton Tower bak perempuan seksi yang bergerak anggun, menggerakkan pinggul dan menoleh ke belakang.

Penduduk setempat menjuluki bangunan ini sebagai “Pinggang Xiao Man”.

Xiao Man adalah seorang perempuan penghibur yang termasyhur berkat pinggul indahnya, yang menjadikannya geisha paling top di seantero Tiongkok pada era Dinasti Tang (618-907).

Di malam hari, Canton Tower bermandikan cahaya lampu aneka warna.

Tubuhnya yang jangkung dengan postur cantik, membuatnya paling menonjol di antara gedung-gedung tinggi lain yang juga bertabur lampu.

Tak heran, di antara banyak bangunan cantik dan unik di Guangzhou, menara TV inilah yang menjadi icon kota Guangzhou.

Canton Tower, yang merupakan menara televisi tertinggi di Asia, masih berfungsi sebagai menara televisi.

Di bangunan ini pula Guangzhou TV berkantor.

Namun, sebagian besar area bangunan ini merupakan wahana hiburan yang mengasyikkan, dan jarang ditemui di tempat lain.

Untuk menuju ke beberapa wahana dan objek di menara ini, pengunjung akan menaiki lift berkecepatan tinggi.

Awalnya kami agak kuatir juga, namun ternyata lift bergerak stabil, nyaris tanpa getaran.

Hanya kuping merasakan sedikit tekanan akibat naiknya tekanan udara seiring ketinggian yang dicapai lift.

Sekarang, ayo menuju area bubble tram yang menjadi tujuan utama kita.

Baca Juga : Jembatan Di China Merupakan Yang Terpanjang di Dunia

Bergulir di pinggir menara tertinggi di Asia

Arena bubble tram berada di ketinggian 455 meter.

Bergulir di pinggir menara tertinggi di Asia

Arena bubble tram berada di ketinggian 455 meter.

suhunya diperkirakan sekitar 8-10 derajat celcius.

Ditambah hembusan angin, udara terasa kian menusuk.

Di arena ini terdapat 16 ‘gelembung kristal’ tembus pandang yang masing-masing berkapasitas 4-6 orang setiap kapsulnya.

Ke-16 kereta yang bagian bawahnya dicat oranye itu bergulir di atas rel yang dipasang di pinggiran menara dengan kemiringan 15 derajat.

Kereta gelembung ini bergulir pelan di atas jentera dengan durasi sekitar 20 menit.

Dari dalam kapsul yang bergulir santai itu, terhampar pemandangan kota Guangzhou dari segala penjuru.

Guangzhou yang berlumuran cahaya lampu tampak begitu memukau dari ketinggian.

Ya, Guangzhou memang sangat cantik di malam hari.

Ini berkat “Kebijakan Topi” yang diterapkan pemerintah setempat, yang mengharuskan semua gedung dihiasi lampu di malam hari.

Maka saat matahari tenggelam, ibukota Provinsi Guangdong ini bermandikan cahaya lampu warna warni.

Di pandang dari ketinggian, tampak indah dan terasa romantis.

Dari dalam gelembung kristal, tampak pula Sungai Mutiara (Pearl River) yang meliuk tenang membelah kota, berkilau diterpa cahaya lampu dan pantulan sinar bulan yang sedang purnama malam itu.

Berapa biayanya? Harga tiket bubble tram untuk satu kali putaran adalah 130 yuan (sekitar Rp 285.000) per orang.

Ini belum termasuk biaya masuk ke Canton Tower sebesar 150 yuan per orang (sekitar Rp 330.000).

Wisata Beihai Park

Wisata Beihai Park

Daftarwisatadichina.web.idTaman Beihai memiliki sejarah yang unik. Taman Beihai dibangun sesuai dengan legenda tradisional Tiongkok. Alkisah ada suatu kisah bahwa suatu ketika ada tiga gunung ajaib bernama “Penglai”, “Yingzhou” dan “Fangzhang” yang terletak di sebelah timur Teluk Bohai (di Cina timur). Para dewa di pegunungan memiliki jenis obat herbal yang akan membantu manusia mendapatkan keabadian. Akibatnya, banyak kaisar Cina feodal di Tiongkok terus mencari gunung. Sebagai contoh, Kaisar Qin Shi Huang, kaisar pertama Dinasti Qin, ingin menjalani kehidupan abadi dan mengirim orang untuk mencari gunung ajaib, tetapi mereka gagal. Kemudian, di istananya, ia menggali sebuah kolam besar dan menumpuk tiga bukit untuk meniru situasi yang digambarkan dalam legenda. Kaisar Wudi, kaisar kelima Dinasti Han, melakukan hal yang sama. Dia merasa bahwa kombinasi gunung dan air dalam arsitektur Cina kuno memiliki efek yang sama sekali berbeda. Maka, sejak saat itu, hampir semua kaisar dinasti berikutnya akan membangun taman kerajaan dengan konfigurasi kolam tiga bukit sebagai negeri dongeng dekat istananya dan dibangun dengan gaya tradisional.

Hal itulah menjadi awal dibangunnya Beihai Park pada Dinasti Liao yang diperbaiki dan dibangun kembali pada dinasti berikutnya termasuk Jin, Yuan, Ming dan Qing. Pembangunan kembali besar-besaran pada masa pemerintahan Kaisar Qianlong dari Dinasti Qing. Pada tahun 1925, taman ini pertama kali dibuka untuk umum dan menarik ratusan ribu pengunjung dari seluruh dunia setiap tahun.

Baca juga : Gunung Berwarna Pelangi Zhangye Danxia

Beihai Park mencakup area seluas sekitar 0,71 km persegi. Ada banyak tempat terkenal dan indah yang harus Anda kunjungi ketika tur di Beihai Park, yaitu Dagoba Putih. Dagoba Putih dibangun pada tahun 1651 untuk menunjukkan keyakinan dalam Buddhisme dan keinginan untuk penyatuan idnplay antara berbagai kelompok etnis Cina. Dagoba Putih hancur dalam gempa bumi dan direkonstruksi dua kali. Dibatasi oleh dua perunggu payung seperti kanopi, dengan 14 lonceng perunggu menggantung di sekitar mereka. Di depan Dagoba Putih adalah Kuil Dagoba Putih. Ada beberapa bangunan lain yang bisa Anda kunjungi jika Anda memiliki cukup waktu. Ini termasuk Zhengjue Hall, Menara Lonceng dan Genderang, Batu Tablet ‘Qiongdao Chunyin’ dan Hao Pu Creek.

Harga tiket masuk melalui pemesanan: CNY 10 (Apr.1 31 Oktober); CNY 5 (1 November – 31 Maret). Melalui Tiket box: CNY20 (Apr.1 31 Oktober); CNY15 (1 November – 31 Maret).

Jam buka mulai pukul 6:30-20:00 (Januari, Februari, Maret, November, Desember); pukul 6:30-21:00 (April, Mei, September, Oktober); pukul 6:30-22:00 (Juni, Juli, Agustus); pukul 8:30-17:00. Waktu yang direkomendasikan untuk mengujungi tempat ini adalah 2 jam.

Untuk menuju ke Beihai Park Anda bisa naik subway Jalur 4 dan turun di Stasiun Ping’anli dan berjalan di sepanjang Dianmen Xi Dajie ke timur selama 20 menit ke gerbang utara pintu masuk taman. Anda juga bisa naik bis 5, Zhuan 1, Zhuan 2, 109, 124, 202, 211, 614, 619, 685 atau Trolley Bis 101, 103, ke Beihai Park Station.

Selagi Anda di Beijing, sempatkanlah juga untuk melihat festival-festival di China, Prince Gong Palace, dan Tembok Ajaib Echo Wall. Apabila Anda merasa lelah, dapat menikmati pelayanan yang nyaman dari hotel – hotel di sekitar Beijing. Hotel yang dapat Anda kunjungi antara lain Traders Hotel, Oriental Garden Hotel, atau Jinglun Hotel.

Gunung Berwarna Pelangi Zhangye Danxia

Gunung Berwarna Pelangi Zhangye Danxia

Daftarwisatadichina.web.id – Jika kita melihat pemandangan gunung, itu akan mendinginkan mata kita, tetapi jika kita melihat gunung yang sangat indah dengan berbagai warna seperti pelangi, perasaan itu pasti akan bercampur antara heran, heran dan heran, sekarang ada beberapa pegunungan di Cina atau tepatnya di Taman Geologi Zhangye Danxia, ​​yang terletak di Provinsi Gansu Cina, pegunungan ini luas dan terlihat seperti kue berlapis warna-warni yang sangat indah.

Zhangye Danxia tampak persis seperti lukisan Picasso. Warna-warni Zhangye Danxia berasal dari berbagai mineral dan bebatuan yang terbentuk selama 24 juta tahun. Setiap warna berasal dari lapisan mineral yang berbeda, dan selama jutaan tahun saling melapisi satu sama lain, membentuk pola pelangi yang unik. Terletak di Provinsi Gansu di Tiongkok, Zhangye Danxia merupakan satu-satunya tempat di dunia dengan formasi bebatuan seperti ini.

Jika Anda tertarik untuk berkunjung, sebaiknya Anda tidak datang di musim dingin. Zhangye Danxia terletak di tengah daerah Hexi Corridor, yang di musim dingin biasa diterpa angin yang cukup kencang. Bahkan di musim panas pun, para pengunjung dianjurkan untuk membawa jaket karena di pagi dan sore hari temperatur udara cenderung menurun dengan drastis.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Zhangye Danxia adalah saat matahari terbenam dan saat matahari terbit. Pancaran sinar kemerahan matahari akan membuat warna-warni Zhangye Danxia bertambah cantik. Oh iya, sebaiknya Anda berkunjung di saat cuaca cerah, karena bebatuan Zhangye Danxia tampak paling cerah dan cantik saat diterpa cahaya matahari, terlebih lagi saat sehabis hujan. Jangan lupa juga untuk membawa minuman, karena di daerah Zhangye Danxia tidak ada toko atau warung. Anda juga dianjurkan untuk membawa masker, karena terdapat banyak debu yang tertiup angin di kawasan tersebut.

Baca juga : Huangshan Atau Pegunungan Yellow

Daerah pegunungan yang berwarna-warni indah ini merupakan bagian dari Taman Bentukan Geologis Zhangye Danxia. Pegunungan ini terletak di daerah Gansu, Tiongkok dan sudah dicatat oleh UNESCO dalam World Heritage Site pada tahun 2010. Keunikan dari pegunungan Zhangye Danxia yang membuatnya sangat indah ini, harus kita masukkan dalam daftar tempat wisata untuk dikunjungi. Sesuai dengan visualnya yang berwarna-warni, tempat ini disebut sebagai Rainbow Rocks.

Menurut John Encarnacion, Ph.D, terbentuknya warna-warna yang berbeda itu berasal dari mineral yang berbeda. Warna merah tua muncul terutama karena mineral bajah besi yang berkarat. Bebatuan ini kaya akan mineral besi yang kemudian teroksidasi saat batu-batu itu terbentuk. Warna kuning muncul kemungkinan karena hanya sedikit kandungan mineral besinya dan lebih banyak pasir dan tanah liat. Warna abu kebiruan dan kehijauan berasal antara dari tanaman organik atau dari mineral yang disebut dengan glauconite yang ditemukan di daerah laut.

Selagi Anda di Guangzhou, sempatkanlah juga untuk melihat Perayaan Imlek di Guangzhou, Nansha Tin Hau, Istana di Tepian Laut dan Pulau Shamian. Apabila Anda merasa lelah, dapat menikmati pelayanan yang nyaman dari hotel – hotel di sekitar Guangzhou. Hotel yang dapat Anda kunjungi antara lain Crowne Plaza Guangzhou Science City Hotel, Country Garden Holiday Resorts, atau Baiyun Hotel.

Huangshan Atau Pegunungan Yellow

Huangshan Atau Pegunungan Yellow

Daftarwisatadichina.web.id – Kami meninggalkan Nanjing menuju Huangshan (Gunung Kuning) untuk menikmati pemandangan gunung paling spektakuler di Tiongkok. Perjalanan memakan waktu 4,5 jam untuk mencapai base camp stasiun kereta gantung Taiping di wilayah timur laut Huangshan) yang membawa kami ke salah satu puncak Huangshan.

Huangshan adalah formasi geologis gunung batu menjulang runcing menembus awan yang banyak diabadikan ke dalam lukisan lukisan khas China oleh para pelukis kuno sampai sekarang. Sudah lama saya berkeinginan untuk mengujungi pegunungan ini karena pesona cerita silat karangan Kho Ping Ho yang saya baca sewaktu kuliah di Gadjah Mada di tahun 60-an. Sewaktu membaca buku cerita silat terbayang susana pegunungan dengan puncak-puncak runcing menjulang ke angkasa ditempuh para jago silat yang saling betanding memperebutkan gelar keperkasaan yang tidak tertandingi di dunia persilatan. Dengan ilmu meringankan tubuh para pesilat menjelajahi Huangshan memperagakan kedigdayaan…kira-kira begitu gambaran cerita silat itu.

Dibawah sadar tertanam keingingna untuk menjejakkan kaki di pegunungan itu. Rupanya di usia yang sudah memasuki tujuh puluhan mimpi itu jadi kenyataan meski terasa ketar ketir juga menyadari betapa curam jalan tnagga menurun dengan tingkat keterjalan yang hampir 70 derajat. Nyali agak menciut untuk mencoba menapaki jalan-jalan sangat curam. namun dengan keyakinan kuat rasa takut dan ngeri perlahan hilang karena dorongan rekan seperjalanan yang banyak ditemukan dengan misi yang sama “menaklukkan” Huangshan. Menuruni jalan berliku dan curam mengikuti kontur dinding batu cadas kami berlajan perlahan-lahan dari satu anak tangga ke anak tangga berikut sepanjang 3 km untuk mencapai kedalaman 500 meter ke dasar lembah Xihai Grand Canyon Huangshan.

Baca juga : Impression Da Hong Pao di Wu Yi Shan

Sesekali beristirahat sambil menyenderkan badan kedinding batu dan sekali sekali menikmati pemandangan menakjubkan gunung gunung runcing menjulang dan lapisan lembah sempit tidak berdasar karena tidak kelihatan diselimuti kabut dan vegetasi. Meski tidak saling kenal setiap pendaki yang menuruni jalan menuju dasar lembah saling memberi semangat dan bahkan saling memberti bantuan bila diperlukan. Suatu saat saya dan istri ketinggalan jauh dibelkang dan dibelakang kami ramai serombongan orang Korea bersahut sahutan saling memanggil. Karena jalan menurun sempit hanya bisa dilalui dua orang berpapasan, kami menghalangi perjalanan mereka. Pada saat mencapai jalanan agak lega, saya dan istri mempersilahkan mereka melaju turun mendahului.

Seorang diantara mereka rupanya iba melihat saya yang jalan tertatih-tatih, sehingga dengan sukarela menuntun saya menruni puluhan anak tangga sampai ke suatu tempat yang tingkat kecuraman agak melandai. Seorang anggota rombongan kami rupanya menyadari bahwa kami sudah tertinggal jauh, sehingga seorang dari mereka berbalik arah menaiki tangga untuk menghampiri kami ke atas. Dengan dituntun oleh rekan seperjalanan itu perjalanan menurun agak lancar meski tetap tertatih tatih dengan langkah menurun satu persatu dari setiap anak tangga. Untunglah jalan dengan ribuan anak tangga itu dibangun dengan sangat baik lengkap https://www.slotjoker88.net/ dengan railing pegangan untuk memudahkan perjalanan. Setelah menempuh perjalanan menurun untuk mencapai dasar lembah di kedalaman 500 meter dari puncak dan ditempuh selama hampir 3,5jam dengan rentang jalan sekitar 3,5-4 km, akhirnya sampai distasiun kereta gantung Xihai Grand Canyon. Dengan menaiki kereta gantung tsb, kami naik kembali ke atas menuju Baiyun scenic area dan selanjutnya berjalan sejauh beberapa ratus meter ke Baiyun Hotel tempat kami menginap malam harinya. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 18:00. Begitu masuk kamar langsung merebahkan diri. Rasanya tidak percaya mampu menuruni lembah dari puncak ke dasar kemudian kembali naik, meski dengan bantuan kereta gantung.

Hari berikutnya setelah sarapan pagi, rombongan perjalanan kami melakukan perjalanan santai diseputar Baiyun Scenic area. Namun, kami berdua memilih beristirahat di hotel karena sudah sangat kelelahan akibat perjalanan sehari sebelumnya. Namun kami sempatkan juga melihat pemandangan indadisekitar hotel dan mencoba menapaki jalan menaik curam, tetapi kemudian menyerah karena dengakul merasa sakit. Selepas makan siang kami check out dari hotel dan melanjutkan perjalan menyusuri rute perjalanan mendaki dan menurun ke pucak Huangshan bagian timur menuju Beihai Hotel yag berjarak sekitar 5,5 km. Saya memilih naik tandu karena merasa tidak fit melakukan perjalan itu namun sang istri keukeuh untuk melanjutkan berjalan kaki bersama anggorta rombongan yang lain. Meski ditandu, saya tetap merasakan “ngeri-ngeri sedap” menikmati pemandangan alam menakjubkan. Untung hari sangat cerah sehigga suasana biru danga saputan awan tipis menyelimuti beberapa puncak Huangshan yang memeberi pemandangan tiada terlukiskan dengan kata-kata. Sesekali pemikul tannda berhenti beristirahat sambil memberi kesempatan kepada saya untuk mengmbi foto-foto pemmandangan yang menakjubkan. Kedua orang pemikul tandu rupanya menyadari bahwa saya tidak boleh jauh dari rombogan sehingga langkah mereka disesuaikan dan sedapat mungkin istri saya berjalan mengikuti dari belakang.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam, kami tiba dipelataran bawah dari Beihai Hotel. Kami memilih kegiatan santai dan beristirahat malam itu untuk bangun pagi sekali sekitar jam 05 pagi untuk menyaksikan matahari terbit di Huangshan.

Impression Da Hong Pao di Wu Yi Shan

Impression Da Hong Pao di Wu Yi Shan

Daftarwisatadichina.web.id – Kota Wuyishan memang tidak terpisahkan dari keberadaan teh Da Hong Pao yang terkenal dan terkenal, yang sangat mahal. Orang Wuyishans juga merasakan kehebatan teh merah ini. Suatu bentuk pujian untuk teh ini telah terlihat dalam pertunjukan teater yang dikenal sebagai Da Hong Pao Impression.

Pertunjukan berjudul “Red Robe Tea” atau Teh Jubah Merah (Impression Da Hong Pao) berkisah tentang legenda teh Da Hong Pao yang begitu termasyur dan menjadi kebanggaan masyarakat Wuyi. Menceritakan bagaimana seorang pemuda yang jatuh hati pada seorang putri yang terpaksa berpisah selama ribuan tahun karena tak direstui ayah si putri yaitu sang raja. Setelah perjuangan cintanya pasangan tadi akhirnya bertemu dan melahirkan bibit pohon teh yang membawa kebahagiaan dan kemakmuran bagi masyarakat Wuyi.

Pagelaran teatrikal dalam bahasa Mandarin berdurasi 70 menit ini dipentaskan oleh hampir kurang 200 performer lokal. Sebagai gabungan dari pemetasan teater, orasi, tarian, dan juga atraksi. Bayangkan saja bagaimana rasanya menonton pertunjukan dengan bahasa yang tidak kita pahami namun bertahan menikmati pertunjukan ini. Rasa kekaguman saya pun makin membuncah saat tahu pertunjukkan ini adalah buah karya sutradara mandarin yang begitu kondang Zhang Yimao. Ia terkenal dengan karya filmnya antara lain Hero, The Road Home, atau Not One Less.

Baca juga : Kota Teh Wuyishan

Selain atraksi dan penampilannya pagelaran ini pun sangat spesial dan spektakuler karena seluruh penonton duduk di atas sebuah platform raksasa yang dapat bergerak berputar 360° melingkar! Penonton cukup duduk dan menghadap sebuah lokasi yang sengaja dibangun menjadi set babak demi babak cerita. Lalu saat babak cerita berganti, panggung penonton tiba-tiba bergerak berputar menghadap set baru. Begitu terus sehingga cukup membuat penonton terperangah saat tempat kami duduk tiba-tiba bergerak berputar. Terlebih saat memasuki babak cerita pertemuan sang pemuda dengan sang putri, penonton menghadap sebuah set yang mana adalah pemandangan salah satu tebing bukit batu di Pegunungan Wuyi. Dua gunung batu tersebut disorotkan lampu spotlight dan video mapping. Kontan saja saya dan seluruh penonton berteriak kagum. Sungguh sebuah pagelaran yang membuat penonton berdecak sepanjang pertunjukkan. Tidak heran jika pagelaran ini selalu penuh dikunjungi wisatawan tiap malam.

Sebuah referensi bagus sekali bagaimana sebuah daerah memafaatkan legenda lokal yang dikemas menjadi sebuah pertunjukan teatrikal untuk wisatawan, yang juga berkaitan dengan hasil komodoti masyarakat lokal yaitu teh merah Da Hong Pao khas Wuyishan. Bagi yang berencana pergi melancong ke Xiamen China, masukanlah agenda ke Wu Yi Shan dan sempatkan menonton pertunjukan ini.

Kota Teh Wuyishan

Kota Teh Wuyishan

Daftarwisatadichina.web.id – Tempat terindah di Tiongkok yang pertama kali dikunjungi adalah Gunung Wuyi. Pegunungan Wuyi, yang terletak di wilayah Cina, menawarkan pemandangan alam yang menakjubkan seperti lukisan. Pegunungan Wuyi dikelilingi oleh sungai yang berliku. Di tepi sungai, ada bukit dengan tebing curam. Kombinasi sungai, gunung, dan bukit ini menciptakan harmoni yang membuat semua orang berdetak.

Kesan pertama saat tiba di Wuyishan adalah kota yang sejuk. Kebetulan kami ke sini pada saat musim yang pas, tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas antara bulan November sampai Januari. Pemandangan bukit-bukit rumput menguasai wilayah ini. Dari stasiun kereta butuh lagi sekitar 40 menit dengan bus menuju kota resort Wuyishan. Pegunungan Wuyi pun sudah langsung dapat kita lihat begitu megah dan gagah.

Puncak Gunung dan Pohon Teh
Pada akhirnya keindahan Pegunungan Wuyishan memang tak diragukan lagi. Sejak hari pertama spekukasi saya atas indahnya alam Wuyishan sudah terbayar kontan. Saya kebetulan berkesempatan mengunjungi Tianyou Peak, salah satu wisata jalan kaki naik ke atas kawasan pegunungan. Keindahan alam sudah mulai terasa. Sungguh sebuah pemandangan alam yang mengingatkan saya pada gambar-gambar negeri dongeng Cina. Atraksi wisata Tianyou ini dibagi menjadi beberapa tahapan pilihan. Tahapan awal, menengah, dan puncak. Pembagian ini berdasarkan level stamina kita saat menanjak / hiking ke atas gunung. Saya tahu diri hanya sanggup sampai tahapan menengah yaitu bagian kebun teh yang berada diapit pegunungan.

Teh memang punya peran penting dalam keberadaan kota Wuyishan. Teh di sini terkenal dengan nama Da Hong Pao. Sebuah jenis teh merah yang tumbuh diatas bebatuan Pegunungan Wuyi. Sering dijuluki sebagai rajanya teh. Nama Wuyishan pun tidak akan lepas dan kondangnya teh Da Hong Pao ini. Saking terkesannya, hingga kisah legenda termasyurnya teh Da Hong Pao pun dijadikan pertunjukkan teatrikal setiap malam yang dikemas dan disajikan dengan tata lampu, cahaya, dan proyektor yang begitu spektakuler.

Pohon teh tertua yang menjadi moyang dari semua pohon teh yang ada di seluruh kawasan Wuyishan ini pun masih ada, tumbuh, dan gagah tertanam di atas sebuah tebing di dalam salah satu celah Pegunungan Wuyi. Jumlahnya ada enam pohon yang hingga hari ini masih hidup dan masih produktif. Di usianya yang sudah mencapai 340 tahun pun pohon teh tertua ini nasih dapat dipanen dengan harga per gram-nya yang super mahal sekali. Walau demikian sudah tidak bisa diperjualbelikan dan hanya disajikan khusus untuk kelas presiden dan raja saja.

Baca juga : Avenue of Stars

Wisata Sungai Jiuqu
Alam Pegunungan Wuyi tidak saja dapat dinikmati lewat atas tapi juga lewat bawah, yaitu dengan mengarungi Sunga Jiuqu. Sungai dangkal yang berkelok-kelok mengarungi perjalanan saya di atas rakit bambu yang menjadi salah satu atraksi wisata favorit.

Satu rakit untuk 6 penumpang dan 2 orang pedayung dibagian depan dan belakang rakit. Mereka berdua tidak mengayuh rakit, melainkan mendorong dan mengemudikannya dengan menancapkan bambu ke dasar sungai. Bagian ujung bambu yang tertusuk ke dasar sungai dipasang paku besi agar bambu tidak mudah rusak.

Sepanjang sungai saya diperlihatkan pemandangan gunung, bukit, hingga tebing yang sangat indah sekali. Di beberapa tempat terlibat pahatan di tebing bertuliskan huruf kanji yang entah apa artinya, mungkin penjelasan nama bukit. Bukit dan gunung-gunung di Pegunungan Wuyi ini memiliki nama, ada sang putri, ada sang raja, ada buah dada dan lain sebagainya.

Tak terasa perjalanan dengan rakit bambu selama 90 menit disudahi saat rakit berbelok masuk dari sungai besar ke sungai kecil. Di akhir wisata sungai semua rakit bersandar di sebuah kawasan tua yang direnovasi sebagai tempat istirahat, makan dan juga belanja oleh-oleh. Sungguh sebuah kawasan wisata yang bagus dan layak menjadi salah satu destinasi jika kita berencana berlibur ke sisi Tenggara Cina.

Tips: gunakan Xiamen Airlines, selain karena harga tiket yang ekonomis (low budget airfares) tapi dapat makan dan kudapan kacang. Perjalanan dari Jakarta (T3 Soetta) ke Xiamen pun ditempuh secara direct (tanpa transit) dalam waktu kurang lebih 5 jam saja! Sebagai catatan, Xiamen Airlines terkenal sebagai maskapai terbaik di China dalam hal safety, maka di atas pesawat TIDAK DIPERKENANKAN menyalakan ponsel, walau sudah dipasang airplane mode sekalipun.