Huangshan Atau Pegunungan Yellow

Daftarwisatadichina.web.id – Kami meninggalkan Nanjing menuju Huangshan (Gunung Kuning) untuk menikmati pemandangan gunung paling spektakuler di Tiongkok. Perjalanan memakan waktu 4,5 jam untuk mencapai base camp stasiun kereta gantung Taiping di wilayah timur laut Huangshan) yang membawa kami ke salah satu puncak Huangshan.

Huangshan adalah formasi geologis gunung batu menjulang runcing menembus awan yang banyak diabadikan ke dalam lukisan lukisan khas China oleh para pelukis kuno sampai sekarang. Sudah lama saya berkeinginan untuk mengujungi pegunungan ini karena pesona cerita silat karangan Kho Ping Ho yang saya baca sewaktu kuliah di Gadjah Mada di tahun 60-an. Sewaktu membaca buku cerita silat terbayang susana pegunungan dengan puncak-puncak runcing menjulang ke angkasa ditempuh para jago silat yang saling betanding memperebutkan gelar keperkasaan yang tidak tertandingi di dunia persilatan. Dengan ilmu meringankan tubuh para pesilat menjelajahi Huangshan memperagakan kedigdayaan…kira-kira begitu gambaran cerita silat itu.

Dibawah sadar tertanam keingingna untuk menjejakkan kaki di pegunungan itu. Rupanya di usia yang sudah memasuki tujuh puluhan mimpi itu jadi kenyataan meski terasa ketar ketir juga menyadari betapa curam jalan tnagga menurun dengan tingkat keterjalan yang hampir 70 derajat. Nyali agak menciut untuk mencoba menapaki jalan-jalan sangat curam. namun dengan keyakinan kuat rasa takut dan ngeri perlahan hilang karena dorongan rekan seperjalanan yang banyak ditemukan dengan misi yang sama “menaklukkan” Huangshan. Menuruni jalan berliku dan curam mengikuti kontur dinding batu cadas kami berlajan perlahan-lahan dari satu anak tangga ke anak tangga berikut sepanjang 3 km untuk mencapai kedalaman 500 meter ke dasar lembah Xihai Grand Canyon Huangshan.

Baca juga : Impression Da Hong Pao di Wu Yi Shan

Sesekali beristirahat sambil menyenderkan badan kedinding batu dan sekali sekali menikmati pemandangan menakjubkan gunung gunung runcing menjulang dan lapisan lembah sempit tidak berdasar karena tidak kelihatan diselimuti kabut dan vegetasi. Meski tidak saling kenal setiap pendaki yang menuruni jalan menuju dasar lembah saling memberi semangat dan bahkan saling memberti bantuan bila diperlukan. Suatu saat saya dan istri ketinggalan jauh dibelkang dan dibelakang kami ramai serombongan orang Korea bersahut sahutan saling memanggil. Karena jalan menurun sempit hanya bisa dilalui dua orang berpapasan, kami menghalangi perjalanan mereka. Pada saat mencapai jalanan agak lega, saya dan istri mempersilahkan mereka melaju turun mendahului.

Seorang diantara mereka rupanya iba melihat saya yang jalan tertatih-tatih, sehingga dengan sukarela menuntun saya menruni puluhan anak tangga sampai ke suatu tempat yang tingkat kecuraman agak melandai. Seorang anggota rombongan kami rupanya menyadari bahwa kami sudah tertinggal jauh, sehingga seorang dari mereka berbalik arah menaiki tangga untuk menghampiri kami ke atas. Dengan dituntun oleh rekan seperjalanan itu perjalanan menurun agak lancar meski tetap tertatih tatih dengan langkah menurun satu persatu dari setiap anak tangga. Untunglah jalan dengan ribuan anak tangga itu dibangun dengan sangat baik lengkap dengan railing pegangan untuk memudahkan perjalanan. Setelah menempuh perjalanan menurun untuk mencapai dasar lembah di kedalaman 500 meter dari puncak dan ditempuh selama hampir 3,5jam dengan rentang jalan sekitar 3,5-4 km, akhirnya sampai distasiun kereta gantung Xihai Grand Canyon. Dengan menaiki kereta gantung tsb, kami naik kembali ke atas menuju Baiyun scenic area dan selanjutnya berjalan sejauh beberapa ratus meter ke Baiyun Hotel tempat kami menginap malam harinya. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 18:00. Begitu masuk kamar langsung merebahkan diri. Rasanya tidak percaya mampu menuruni lembah dari puncak ke dasar kemudian kembali naik, meski dengan bantuan kereta gantung.

Hari berikutnya setelah sarapan pagi, rombongan perjalanan kami melakukan perjalanan santai diseputar Baiyun Scenic area. Namun, kami berdua memilih beristirahat di hotel karena sudah sangat kelelahan akibat perjalanan sehari sebelumnya. Namun kami sempatkan juga melihat pemandangan indadisekitar hotel dan mencoba menapaki jalan menaik curam, tetapi kemudian menyerah karena dengakul merasa sakit. Selepas makan siang kami check out dari hotel dan melanjutkan perjalan menyusuri rute perjalanan mendaki dan menurun ke pucak Huangshan bagian timur menuju Beihai Hotel yag berjarak sekitar 5,5 km. Saya memilih naik tandu karena merasa tidak fit melakukan perjalan itu namun sang istri keukeuh untuk melanjutkan berjalan kaki bersama anggorta rombongan yang lain. Meski ditandu, saya tetap merasakan “ngeri-ngeri sedap” menikmati pemandangan alam menakjubkan. Untung hari sangat cerah sehigga suasana biru danga saputan awan tipis menyelimuti beberapa puncak Huangshan yang memeberi pemandangan tiada terlukiskan dengan kata-kata. Sesekali pemikul tannda berhenti beristirahat sambil memberi kesempatan kepada saya untuk mengmbi foto-foto pemmandangan yang menakjubkan. Kedua orang pemikul tandu rupanya menyadari bahwa saya tidak boleh jauh dari rombogan sehingga langkah mereka disesuaikan dan sedapat mungkin istri saya berjalan mengikuti dari belakang.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam, kami tiba dipelataran bawah dari Beihai Hotel. Kami memilih kegiatan santai dan beristirahat malam itu untuk bangun pagi sekali sekitar jam 05 pagi untuk menyaksikan matahari terbit di Huangshan.